• SMA NEGERI 1 BUKIT BATU
  • Bersinergi - Profesional - Semakin Bedelau

PUTIH : DESTINASI TERAKHIR KERETA PARA PENJAGA INDONESIA

Malam tiba dengan perlahan di kota kecil itu, bak tirai hitam yang ditarik oleh angin menuju langit. Di malam gelap itu, hujan turun layaknya benang-benang tipis. Theo berjalan tanpa arah yang jelas pastinya kemana, ia tabrak genangan air dan membiarkan jaket kulitnya basah begitu saja. Kini, ia hanya ingin jauh dari semua pertengkaran rumah yang tiada habisnya setiap hari, jauh dari sekolah yang selalu menuntut angka lebih dari napas, jauh dari dirinya yang ia rasa tidak cukup bagi siapa pun.

Stasiun sudah hampir tutup ketika ia tiba, lampu-lampunya sudah remang dengan penjaga yang sudah sangat mengantuk. Saat itu kereta yang tersisa di papan jadwal hanya satu kereta bernama : “Kereta Putih 45 – Tujuan Tidak Dikenal.”

Saat membaca nama kereta itu, Theo sangat bingung. Baru kali ini ia tahu bahwa ada kereta dengan nama tersebut, namun ia tak ingin ambil pusing. Yang ia inginkan saat ini hanya pergi sejauh mungkin dari kota kelahirannya ini, terserah kemana saja kereta itu akan membawanya nanti.

Tak jauh dari tempat ia berdiri, kereta yang ia yakini bernama Kereta Putih 45 itu sudah menunggu di ujung jalur. Sebuah kereta yang kelihatannya sudah sangat berumur dengan warna perak kusam. Lampunya sangat temaram, seperti lilin-lilin di film horror. Pintu kereta itu terbuka pelan dan berbunyi sangat pelan memecah kesunyian malam.

Theo melangkah masuk.

Begitu pintu tertutup, dunia berubah, semua akan terasa berbeda namun Theo tidak sadar.

Kereta itu bergerak tanpa suara, tanpa getaran. Satu kata, aneh. Udara di dalamnya terasa kuno seperti ada campuran kayu jati, kemenyan dan bau tembakau. Kursinya empuk tapi hampir semua telah termakan oleh usia. Semua bisa diterima Theo dengan biasa saja, namun ketika melihat para penumpang, Theo merasa mereka bukan penumpang biasa.

Di malam yang akan berganti tanggal ini, mau kemana mereka yang menggunakan pakaian adat seperti penumpang-penumpang yang kini berada bersamanya di Kereta Putih 45 ini?

Di bangku paling depan, terdapat seorang lelaki dengan hiasan kepalanya yang Theo rasa itu adalah tanjak serta songket di atas lutut berwarna hijau. Ia yakin sekali pria ini pasti menggunakan pakaian adat Melayu, ia ingat sekali dengan buku yang dibacanya tempo hari tentang pakaian adat Indonesia, salah satunya suku Melayu. Lalu, di belakang pria itu terdapat seorang gadis Tionghoa menggunakan dress merah lusuh di atas lutut. Di samping gadis itu ada perempuan Dayak yang mudah Theo kenali dari pakaiannya, tujuan mata perempuan itu tak tertebak. Di belakang perempuan Dayak, ada seorang gadis Papua dengan rambut terurai. Tak hanya mereka, ada 2 orang pemuda lagi di depan kursi Theo, yang duduk berdampingan, satunya menggunakan Ulos khas Batak dan yang satunya seorang lelaki tua bersorban putih. Theo tak tau pasti asal pria tua ini.

Tak ada ponsel, koper atau barang apapun. Pandangan mereka lurus ke depan.

Theo menelah ludah. “Kereta apa ini…?”

Lelaki Batak, memandang ke arah Theo dengan senyuman. “Ini kereta untuk mereka yang ceritanya belum usai.”

Theo sama sekali tak mengerti. Kemudian, gadis Tionghoa yang duduk di belakang pria Melayu itu menatap Theo dengan mata sayunya yang bersinar. “Kami berasal dari tempat dan waktu yang berbeda. Tapi darah kami tumpah untuk negeri yang sama, Indonesia.”

Theo memandang mereka semua yang kini menatapnya, rasanya seperti ada sesuata yang sangat lama, sangat tua yang terpancar dari tatapan mereka.

Theo mengerutkan dahinya dan kembali bersuara. “Kita mau ke mana?”

“Putih. Kita akan ke sana. Tempat semua warna akan berpadu tanpa saling menghapus.” Jawaban datang dari lelaki Melayu dengan tanjak hitamnya.

Lalu, pria tua bersorban putih menambahi, “Nak… bangsa kita ini bisa berdiri bukan hanya karena satu warna, tetapi karena ribuan warna yang memilih untuk saling berpadu.”

Theo masih tak paham, ia memilih diam dengan suasana hati yang meronta ingin bertanya lagi namun rasanya ia sudah sangat merinding ketika melihat orang-orang di depannya.

Kereta terus berjalan, tanpa suara, tanpa rel yang tampak. Theo merasa ia memasuki dunia lain yang rasanya seperti sejarah, seakan sedang melakukan ‘time traveller’, semua aneh.

Theo mencoba melihat ke arah luar dari jendela, tetapi bukannya melihat pemukiman warga maupun kota yang terlihatnya hanya gelap malam seperti tinta hitam memenuhi kanvas. Ia mundur perlahan, rasanya sangat merinding, jantungnya tidak stabil.

Hingga suara perempuan Dayak mengejutkannya, “Kau tidak perlu cemas, kereta ini tidak pernah membawa orang yang salah.”

“Tidak ada yang masuk ke kereta ini kecuali hatinya sedang retak. Keretakan itulah yang memanggil kami.” Gadis Papua menambahkan dengan senyumnya yang manis.

Theo menjawab dengan cepat, “Aku hanya sedang memiliki masalah di rumah dan stress dengan sekitarku, tidak tergolong sampai keretakan.”

Lelaki Batak menatap Theo dalam, “Keretakan tidak selalu berasal dari perang, nak. Kadang ia lahir dari sunyi yang terlalu lama sendirian.”

“Siapa sebenarnya kalian semua?” Theo tak tahan lagi.

Orang-orang di depan Theo semuanya terdiam dan menunduk, hingga tiba-tiba jendela di samping Theo, jendela yang tadi ia intip bagaimana keadaan di luar kereta, kini menampilkan potongan kehidupan orang-orang dengan pakaian aneh di depannya. Theo terperanjat ketika melihatnya dan bertanya dalam apakah ini nyata?

Dimulai dari kisah gadis Papua, terlihat kehidupannya saat remaja, “Dulu aku hanya seorang anak yang tak tahu apa-apa. Setiap hari aku ditugaskan ayah membawa surat yang kuikat di rambut keritingku. Mereka bilang aku adalah kurir kecil. Aku tidak tahu apa itu perang maupun politik, aku hanya ingin kembali ke kampungku bersama ayah dan mamaku.”

Air mata gadis itu jatuh dan ia kembali bersuara, “Tetapi, peluru tidak memilih umur.”

Kemudian, dengan ajaibnya yang di jendela berganti menjadi kisah sang gadis Tionghoa, “Aku selalu dipanggil dengan sebutan yang… tidak pantas di depan banyak orang. Aku selalu dipandang sinis dan ingin dimusnahkan.”

Singkat, tetapi sangat menyayat hati Theo. Kisah pun berganti lagi menjadi kisah si pria Melayu, “Aku bercerita syair-syair perjuanganku. Suaraku dipakai untuk memanggil semangat rakyat demi memperjuangkan negeri ini. Tapi suatu dini hari… rumahku habis dipecah-belahkan oleh manusia-manusia biadab. Hingga aku berakhir di sini.”

Tiba saja tampilan di jendela itu hilang, padahal masih ada gadis Dayak, pria Batak dan pria Tua bersorban putih. Aku ingin melihat dan mendengar cerita mereka, tetapi mengapa terhenti.

Gadis Dayak bersuara, “Tak perlu penasaran dengan ceritaku. Satu hal yang perlu kamu ketahui, nama tidak penting untuk kami, jika nama itu tidak pernah kembali ke tanah.”

Setelah begitu lama diam, pria Tua itu angkat bicara, “Nak, negeri ini tidak berdiri karena satu wajah. Ia berdiri karena jutaan wajah yang ingin saling menjaga. Tanpa bertanya, siapa Tuhanmu? Apa sukumu? Apa bahasamu? Tidak nak, tidak. Ingatlah itu.”

Hati Theo melemas, tak sadar cairan bening keluar dari pelupuk matanya, “Aku… tak pernah terfikir ke-Bhinekaan se-suci ini. Begitu perih menjadi pahlawan di jaman dulu…”

Pemuda Batak tersenyum tipis, “Karena generasimu saat ini tidak mewarisi perang. Kalian hanya hidup dalam kedamaian yang sudah dibayar penjaga negeri dengan nyawa di masa lampau.”

Kereta berhenti, suara roda yang sedari tadi tidak terdengar kini memunculkan suaranya, seakan mendekati sesuatu yang terasa sakral. Gadis Dayak berbisik di telingaku, “Kita tiba di Putih.”

Aku terdiam, apa maksud Putih? Daerah mana Putih ini?

Aku melihat lagi ke luar dari jendela tadi, kini hamparan hitam sudah berganti menjadi hamparah putih luas, memantulkan cahaya. Semua putih, seperti dunia yang belum diberi warna. Semua penumpang berdiri, melangkah keluar.

Lelaki Melayu melihatku, “Ini ujung cerita kami. Jangan takut, kau aman. Kau masih hidup.”

Theo terkejut, tak paham, “Lalu, bagaimana dengan kalian semua?”

“Kami pernah hidup sekali. Tetapi, cerita kami dihidupkan banyak kali.”

Theo berjalan ke arah hamparan putih luas itu, hingga tiba-tiba mereka terhenti ketika kabut menyingkir, seakan membuka jalan untuk mereka. Di balik kabut itu, jutaan figur muncul. Wajah-wajah dari zaman ke zaman yang tak ia kenali muncul dengan ciri khasnya masing-masing.

“S-ssiapa mereka?” Theo terbata karena masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya

“Mereka pahlawan tanpa nama. Yang tubuhnya tidak ditemukan, yang namanya tidak sempat ditulis, yang kisahnya sudah tenggelam oleh zaman.”

Mereka semua menatap Theo. Mereka bukan hantu, bukan bayangan, bukan mimpi.

Mereka adalah sejarah yang tak sempat diceritakan.

Lelaki Melayu tiba-tiba bersuara dari samping Theo, “Kami berjuang tanpa tugu, kami gugur tanpa upacara. Tetapi ingatlah, kami tetap bagian dari tanahmu.”

“Aku tak pantas berada di sini.” Theo berbisik lirih

Gadis Tionghoa berbisik, “Anak muda… bangsa tidak butuh kesempurnaanmu. Bangsa hanya butuh engkau yang kuat dan pantang menyerah.”

“Karena pahlawan terbesar adalah dia yang memilih bangkit, meski tak ada yang melihat.” Pria Batak menambahkan

Pria tua mendekat dan memegang pundak Theo, “Nak, bangsa ini tidak hanya berdiri di atas nama-nama besar. Ia berdiri di atas tulang-belulang yang tak dikenang. Pahlawan bukan meminta untuk diingat, pahlawan adalah mereka yang tetap maju meski tahu mereka mungkin dilupakan.”

Lelaki Melayu dan Pria Batak menarik Theo kembali ke dalam kereta, diikuti yang lainnya. “Perjalanannmu berakhir di sini. Perjalanan kami sudah berakhir sejak lama.”

Gadis Tionghoa menutup pintu dan menatap Theo, “Theo, kau dan generasimu adalah warna-warni yang akan melanjutkan perjalanan kami.”

Kereta berjalan perlahan, Theo hanya bisa terdiam, tak mampu merespon semua ucapan yang dilontarkan padanya. Melihat dan mendengar semua cerita orang-orang yang di awal ia kira sangat aneh itu, kini membuat perasaannya campur aduk.

Kereta melambat, lampu bersinar dari penjuru arah. Hingga si pria Batak tiba-tiba berdiri di depan Theo dan menarik Theo dari duduknya, membawa Theo keluar kereta, “Kami dulu berjuang dengan bambu, teriakan dan doa. Kini kamu dan generasimu akan berjuang dengan hal baru yang tak kami mengerti. Tapi ingatlah arah perjuangannya sama.”

Tiba-tiba Theo sudah kembali di stasiun, kereta yang dinaikinya sudah hilang. Ia melihat ke arlojinya, menunjukkan pukul 06.45 WIB. Tanggal 10 November 2025, kini Hari Pahlawan. Theo tak tahu itu mimpi atau apa, tapi ia siap melanjutkan perjalanan mereka.

Ia tak ingin dikenang, ia hanya ingin seseorang tetap selamat di hari itu

Karya : Yohana TMS

Kelas XII 2

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
PERTANDINGAN ANTAR KELAS DALAM RANGKA BULAN BAHASA TAHUN 2025

Dalam rangka memeriahkan Bulan Bahasa, OSIS SMA Negeri 1 Bukit Batu menyelenggarakan pertandingan cipta cerpen antar kelas dengan mengusung tema “Berkebhinekaan dan Pahlawanku&rdq

01/12/2025 11:17 - Oleh Yulia Erma, S.Pd - Dilihat 196 kali
Pertandingan Antar Kelas dalam Rangka Hari Pahlawan

Dalam rangka memperingati Hari Pahlawan, OSIS SMA Negeri 1 Bukit Batu mengadakan pertandingan Short Movie antar kelas sebagai bentuk kreativitas siswa dalam meneladani semangat perjuang

01/12/2025 08:03 - Oleh Yulia Erma, S.Pd - Dilihat 188 kali
CAHAYA ITU BERNAMA KARTINI

Langit sore mulai terlihat di atas sekolah. Angin berhembus pelan membawa aroma tanah basah setelah hujan. Di pojok perpustakaan, di sanalah aku duduk di depan layar laptop yang menampi

29/11/2025 20:50 - Oleh Yulia Erma, S.Pd - Dilihat 240 kali
PELANGI DI TELUK ARU

Angin laut bertiup pelan ketika mentari pagi merayap naik dari balik cakrawala. Di sebuah kampung kecil di pesisir Teluk Aru, Sumatra Timur, seorang remaja bernama Nadra berdiri di derm

29/11/2025 20:48 - Oleh Yulia Erma, S.Pd - Dilihat 225 kali
STRUKTUR OSIS SMA NEGERI 1 BUKIT BATU PERIODE 2025-2026

Pelindung / Penasehat : Luqman Hakim, M.Pd (Kepala SMAN 1 Bukit Batu) Penanggung jawab      : Rais Triono, S.Pd (Wakil Kesiswaan) Pengurus Harian      &n

31/10/2025 11:30 - Oleh Yulia Erma, S.Pd - Dilihat 330 kali
Pemilihan Ketua OSIS dan Wakil Ketua OSIS Periode 2025-2026

Pemilihan Ketua dan Wakil Ketua OSIS SMA Negeri 1 Bukit Batu merupakan salah satu agenda penting dalam rangka regenerasi kepemimpinan di lingkungan sekolah. Kegiatan ini menjadi wadah p

29/09/2025 11:47 - Oleh Yulia Erma, S.Pd - Dilihat 349 kali
Judi Bola slot gacor bocoran admin jarwo slot gacor bocoran admin jarwo
>